02 September 2008

Lunilync Frei

Yap, ini cerita Symphony of Alderra yang baru! Masih "Memoirs of Life" sih, cuman udah terstruktur rapih setelah setahun berusaha merapihkannya!

Ini cuplikan awalnya. Selamat membaca!

Aah…

Malam ini terasa begitu dingin, hening, dan sepi. Langit hitam pekat membentang tanpa batas di angkasa raya, tak terhitung berapa kali lebih luas dari samudra. Bintang-bintang bertebaran, berkelipan bagai buih di lautan yang hilang karena ombak, sebagaimana awan-awan menutupi keindahan kelipan bintang-bintang itu. Bulan purnama bercahaya kuning keperakan mewarnai awan-awan yang melayang bagai serabut kapas yang dihambur-hamburkan di depan kipas angin yang menyala kencang.

Angin berhembus kencang di antara keringnya udara. Perasaan tertusuk terasa begitu nyata, apalagi ditambah dinginnya jam setengah satu malam. Dedaunan yang memerah, mati dan berserakan di tanah pun terbang mengikuti arah sang angin yang pergi menjelajahi angkasa raya yang terbentang tanpa batas. Sedangkan dedaunan yang masih bertahan bertengger di atas dahan-dahan pohon menari sambil menahan dirinya sendiri, tidak mau melepaskan dirinya dari pangkuan sang pohon yang telah melahirkan dan membesarkannya.

Belalang kecil melintasi jalan setapak berwarna coklatnya tanah yang berhamburan. Di sebelah kiri dan kanan jalan setapak itu tumbuh rerumputan pendek yang seolah menjadi batas jalan itu. Bebatuan yang berserakan di sepanjang jalan itu memang tidak bersahabat dengan kaki yang telanjang, tetapi mereka membuat jalan itu terlihat lebih alami dan indah, lengkap dengan sebatang pohon yang tumbuh di tepinya, seperti di lukisan mahal yang dimiliki para kaum bangsawan.

Tidak ada komentar: